Materi Bimbingan Teknik Pengelolaan Sistem Informasi Desa Tahap II (kedua) se-Kabupaten Tasikmalaya

Repost From Sariwangi (10/11/2018). Pada Bimbingan Teknik Pengelolaan Sistem Informasi Desa Tahap II (kedua) se-Kabupaten Tasikmalaya, para pandu diberikan materi pembelajaran, informasi serta diskusi. Beberapa materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut diantaranya tentang Keuangan/Siskeudes, Kependudukan, Pemetaan, Kesehatan (Stunting), Capaian Pembangunan Desa dan Re-forma Agraria. Materi-materi tersebut dilaksanakan di balai sawala dari jam 09.00 – 12.00 WIB. Materi selanjutnya tepat Pukul 13.00 -17.30 WIB, yang dilaksanakan di ruangan kelas SMK Karya Putra Manggala Kp. Cinunjang Desa Mandalamekar Kecamatan Jatiwaras Kabupatén Tasikmalaya.

Pada hari pertama 05 November 2018, Bimbingan Teknik Pengelolaan Sistem Informasi Desa Tahap II (kedua) se-Kabupaten Tasikmalaya dimulai dengan materi yang dilaksanakan di balai sawala. Selanjutnya dilanjutkan materi Kependudukan yang dilaksanakan di ruangan kelas yang di isi pemateri.

Suasana Pandu Desa Hastawangi mendapatkan materi kependudukan. (dok : gyamphkanp)

yang menjabat pula sebagai Sekretaris Desa Papayan Kecamatan Jatiwaras. Materi kependudukan ini nantinya sangat bermanfaat untuk pemetaan log pembangunan juga pemetaan pemerataan dana desa secara keseluruhan.

Dalam materi-nya berpesan supaya berpesan supaya dalam penginputan SIDEKA Desktop diupayakan yang menginputnya orang yang sesuai dengan Tupoksi di Pemerintahan Desa. Misalkan untuk Kependudukan penginputan oleh Kasi Pemerintahan, Perencanaan oleh Kaur Perencanaan, Keuangan oleh Bendahara atau Kaur Keuangan, Kemiskinan oleh Kasi Kesejahteraan dan untuk Pemetaan oleh Pandu Desa yang mengikuti pelatihan dibantu para Kepala Dusun.

Hari selanjutnya materi dimulai dengan materi Stunting yang diisi pemateri

Bapak Noer Fauzi Rachman, Ph.D. memberikan materi dan informasi tentang Stunting. (dok : gyamphkanp)

Dalam sesi ini dapat disimpulkan pula Dana Desa dapat direalisasikan bukan hanya untuk fisik pembangunan saja tetapi bagi kesehatan, pemberdayaan, dan kemiskinan. Materi tersebut dapat dibaca di BUKU SAKU STUNTING DESA dan materi lainnya tentang informasi DINAS KESEHATAN KAB TASIKMALAYA 2018 PROGRAM PENANGGULANGAN STUNTING 1 serta DINAS KESEHATAN KAB TASIKMALAYA 2018 PROGRAM PENANGGULANGAN STUNTING 2 Selanjutnya materi yang dilaksanakan didalam kelas yakni tentang SISKEUDES. Dalam sesi ini dijelaskan tentang teknik ekspor data siskeudes ke desktop Sideka. Data yang telah diekspor tersebut nanti akan ter papar di website Desa dengan tampilan data statistik. Dalam materi tersebut diisi oleh pemateri Ibu Nur Latifah Nasir, S.IP., MA. serta Bang Maharestu sapaan akrabnya Ama Bryan. Sekitar jam 20.00 sampai dengan 23.00 WIB dilanjutkan dengan Coaching Clinic Pemetaan dengan pemateri Kang Uje.

Materi SISKEUDES yang disampaikan Ibu Bina Retina, Ak., CA. perwakilan BPKP Provinsi Jawa Barat. (dok : gyamphkanp)

Pada hari terakhir tanggal 07 November 2018, materi pertama yang disampaikan adalah tentang SISKEUDESdan pengenalan SIABUMDES. Dalam sesi ini pemateri memberi teknik penginputan serta penjelasan lainnya yang berhubungan dengan sistem keuangan dan pemeriksaannya. Sinkronisasi SISKEUDES dengan SIDEKA desktop akan menjadi acuan pihak-pihak terkait untuk pemeriksaan keuangan Desa dikemudian hari. Materi tersebut disampaikan oleh Ibu Bina Retina, Ak., CA. dengan jabatan Auditor Madya /IVB, BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) Provinsi Jawa Barat. Dalam materi-nya Ibu Bina Retina, Ak., CA. menyampaikan “Dengan sinkronisasi SIDEKA dan SISKEUDES, akan memudahkan Kita (BPKP-red) untuk mendapatkan informasi dari Pemerintahan Desa, dan selanjutnya Kami dapat memeriksa langsung ke lokasi Pemerintahan Desa jikalau ada kejanggalan dalam SIDEKA-nya” begitu ungkap-Nya.

Menjelang siangnya dilanjutkan dengan materi pemetaan yang disampaikan oleh Kang Uje di ruangan kelas SMK Karya Putra Manggala. Dalam penentuan titik koordinat batas desa dan fasilitas umum harus menggunakan GPS (Global Positioning System) untuk menentukan posisi yang akurat. Untuk masalah Batas Desa perlu dihadirkan tokoh masyarakat, aparatur Desa ataupun orang lainnya yang mengetahui batas-batas desa yang bersinggungan atau berbatasan. Hal ini agar kemudian hari tidak menjadi konflik dan saat pembuatan Peta Desa akan lebih tepat dan akurat sebagai kebutuhan pemetaan pembangunan Desa dan mengembangkan potensi Desa.

Tenaga Ahli Utama Kantor Stap Presiden (KSP), Bapak Agung Hardjono. memberikan materi tentang Program Prioritas Nasional Re-forma Agraria dan Perhutanan Sosial (RAPS). (dok : gyamphkanp)

Di malam terakhir, para Pandu Desa se-Kabupaten Tasikmalaya melaksanakan acara perpisahan. Namun sebelum acara tersebut diisi terlebih dahulu dengan materi ), Capaian Pembangunan Desa dan Re-forma Agraria. Materi tersebut disampaikan langsung oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Stap Presiden, Bapak Agung Hardjono. Dalam materi-nya tersebut membahas tentang Program Prioritas Nasional Re-forma Agraria dan Perhutanan Sosial (RAPS).

“Kantor Stap Presiden (KSP) bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Hidup (KLHK), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menyelenggarakan “Pra-Rembuk Nasional Re-forma Agraria dan Perhutanan Sosial untuk Keadilan Sosial” di sembilan Provinsi Prioritas” begitu ungkap Bapak Agung Hardjono. “Hal ini dilakukan untuk memastikan penyelesaian usulan Tanah Obyek Re-forma Agraria (TORA) dan Perhutanan Sosial dari masyarakat dan mitra pembangunan, sebagai persiapan Rembuk Nasional Re-forma Agraria dan Pehutanan Sosial Untuk Keadilan Sosial” lanjut-Nya.

Sesi selanjutnya adalah sesi hiburan yang diisi oleh para Pandu Desa gelombang V (lima) yang mengikuti kegiatan ini. Diantaranya Kecamatan Sariwangi, Leuwisari, Cigalontang, Puspahiang, Sukarame dan Mangunreja. Di akhir kegiatan ini selanjutnya menyanyikan lagu Selamat Jalan –Endang Soekamti sebagai tanda akhir acara tersebut. Beberapa diantara Pandu Desa secara emosional menitikkan air mata-nya sebagai tanda bahagia dan sedih yang bercampur aduk. Hal tersebut karena selama hampir 10 (sepuluh) hari kegiatan ini, menimbulkan kedekatan emosional para Pandu Desa dengan mentor atau pun dengan para Pandu Desa itu sendiri.

Semoga Para Pandu Desa dapat menjalankan amanahnya dengan ikhlas dengan bantuan Pemerintah Desa dan Perangkat Desa untuk membangun Desa melalui Sistem Informasi melalui media Internet sebagai transparansi sebuah desa kepada hal layak umum dan pemerintah Pusat atau pun Pemerintah Daerah. Merdesa. (Gyamphkanp).

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan