When Weekend Comes

JAYAPUTRA (16/12/2018) bertani di lahan sawah milik masyarakat Desa Jayaputra. Pemilik sawah tersebut adalah Pak IPin Aripin, beliau merupakan Warga dari RT 01 di dusun 1 Cibatu di areal pesawahan seluas -+ 5000 m2. Lahan sawah tersebut digarap oleh 6 orang pekerja wanita dan 2 orang pekerja laki laki.

kegiatan pembuatan alur penanaman atau ngagaru yang masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan kayu yang dibentuk seperti garpu lebar. Disamping itu, Pekerja perempuan melakukan penanaman bibit padi pada lahan sawah yang sudah dibuat alur penanamannya atau dalam bahasa sunda biasa disebut ngagaru. Bibit tanaman padi yang sudah berumur 14-18 hari dipindahtanamkan ke petakan lahan baru. Cara penanaman yang dilakukan petani tersebut masih tradisional atau secara manual. Penanaman dilakukan dengan memasukkan 3-4 anakan padi ke dalam lahan sawah sesuai garis yang ditentukan dan ditanam dengan cara maju ke depan.

Di jawa sebelum perang, petani menanam padi secara acak (tidak menurut garis lurus) di sawah, dan Jepang menemukan bahwa hal itu merupakan salah satu sebab rendahnya tingkat produktivitas padi. Mereka memerintahkan petani untuk mengikuti cara Jepang. Setelah serangkaian percobaan yang dilakukan oleh para insinyur pertanian Jepang, ditemukan bahwa jarak tanam yang ideal diantara bibit dari kebanyakan daerah Jawa, dengan tatanan lingkungannya serta bagi jenis padi yang ada, ialah 20 cm.

                              Penanaman Padi Dengan Tehnik Tandur

Cara tanam ini dilakukan dengan berjalan membungkuk mundur oleh karena itu disebut tandur, cara ini dilakukan agar benih padi yang telah ditanam tidak terinjak oleh kaki petani yang menanamnya, cara menanamnya yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah memegang pangkal batang dekat akar benih lalu ditancapkan ke dalam tanah. Ada juga yang dilakukan dengan berjalan membungkuk kedepan, akan tetapi penamaan ini tidak berubah masih tetap saja tandur. Benih padi tersebut ditanam diantara pertemuan garis lurus yang memanjang dan memotong pada satu petak sawah, sehingga tampak rapih dan berbaris sesuai dengan garis caplakan.

Keur jaman Jepang mah tandur teh make awi teu aya caplakan. Jadi nuturkeun bukuan awi. Pernah bapa ema dijabokan ku Jepang gara-gara teu nurut melak pare na teu dijajarkeun da bapa ema mah make aseuk.[Pada jaman Jepang, tandur menggunakan bambu karena belum ditemukan caplakan / alat untuk memberi jarak tanam di sawah. Jadi menanam padi dengan mengikuti ruas bambu. Pernah bapak nenek ditampar dan dihukum oleh orang Jepang karena menanam padi tidak mengikuti perintah Jepang / disejajarkan dikarenakan bapa nenek masih menggunakan aseuk].

Petani yang sudah lama menggunakan teknik ngaseuk pada masa kolonial Belanda mendapatkan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan aturan pemerintah Jepang. Akan tetapi pada kenyataannya inovasi teknik tersebut membuahkan hasil bahkan sampai hari ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat yang ada di Seluruh Indonesia. Pada masa Penjajahan militer Jepang, “petani menduduki status peringkat kedua (setelah samurai)” Kurasawa (1993:21). Secara teoritis petani pada masa itu menikmati kedudukan yang lebih tinggi daripada pedagang dan pengrajin, sekalipun kedudukan ekonomi mereka sesungguhnya yang terendah.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan